![]() |
Thanks Timnas Thanks to Gonzales |
Kamis, 16 Desember 2010
Selasa, 14 Desember 2010
Hari Ini, Wakil Presiden Budiono Lihat Kehidupan Pesisir di Nunukan
BALIKPAPAN— Wakil Presiden Boediono mengingatkan, pemerintah daerah maupun masyarakat Kalimantan Timur tidak boleh lengah dalam menjaga keutuhan daerah ini, yang merupakan bagian dari negara kepulauan Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Oleh karena itu, kata dia, diperlukan kerja sama yang baik antara TNI dan pemerintah daerah dalam menjaga keutuhan wilayah ini.
“Kuncinya adalah dengan bersama-sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha, untuk memberi perhatian yang lebih besar, dan koordinasi lebih baik, untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat perbatasan,” terang Boediono saat membuka peringatan Hari Nusantara XI di Kompleks Helipad Pertamina Balikpapan, Senin (13/12).
Ia menyebut, hal tersebut adalah tugas bersama yang harus dilaksanakan. “Mari kita tingkatkan kerja keras kita, dan lebih baik lagi, “ sambung wapres yang saat itu mengenakan baju batik berwarna biru.
Saat menyampaikan sambutan yang diwarnai hujan gerimis itu, Boediono mengajak warga Indonesia untuk introspeksi mengenai laut. Sebab, sumber daya laut sampai saat ini belum diberdayakan secara optimal, bagi kemakmuran rakyat dan bangsa.
“Padahal kita merupakan keturunan bangsa pelaut, yang cinta laut, berani, dan memanfaatkan laut untuk kehidupannya. Sudah banyak catatan sejarah yang menunjukkan nenek moyang kita yang menjelajahi laut sampai ke benua Afrika. Saya sangat mendukung tema perayaan tahun ini, Hari Nusantara Membangkitkan Budaya Bahari,” urainya.
Lewat semangat Hari Nusantara (Hanus), kepada seluruh peserta peringatan yang merupakan kepala daerah dari sejumlah penjuru Indonesia dan pejabat yang mengepalai bidang kelautan dan perikanan, Boediono meminta untuk mendorong masyarakat mencintai laut lewat program nyata oleh pemerintah dan masyarakat.
“Kuncinya lewat perbaikan transportasi antarpulau yang andal dulu. Dengan demikian konektivitas akan baik. Maka, kegiatan ekonomi kita terintegrasi, dan Indonesia akan lebih kuat menghadapi krisis,” sebutnya.
Dengan momentum Hari Nusantara pula, ajak Boediono, “Mari kita pelihara dan melanjutkan, menggerakkan budaya bahari, dan mengoptimalkan budaya bangsa kita sehingga anak cucu kita memanfaatkan secara besar.”
Selain itu, pemerintah daerah sebaiknya semakin peduli dengan kawasan pesisir terutama pulau-pulau kecil yang merupakan beranda terdepan RI. Seperti diketahui wapres, budidaya ikan di kawasan pesisir masih memprihatikan, dan oleh sebab itu harus diperhatikan dan memikirkan bersama program-program nyata yang bisa dilaksanakan.
”Kita punya ribuan komunitas nelayan, yang sebagian besar masih terpencil, dan banyak keterbatasan. Nantinya semua komunitas itu harus mempunayai akses jaringan antarpulau itu,” sebutnya.
Terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II Fadel Muhammad mengatakan, deklarasi Juanda pada 13 Desember 1957 yang menjadi acuan untuk memperingati Hari Nusantara itu sangat bermakna dalam bahwa wilayah laut dan darat Indonesia tidak bisa dipisahkan.
Dalam kesempatan itu, Fadel yang juga merupakan ketua umum panitia nasional Hari Nusantara XI 2010 menambahkan, peringatan Hari Nusantara tidak hanya dilaksanakan di Balikpapan tetapi juga berbagai daerah di Indonesia.
Sebagai bentuk upaya perhatian pemerintah terhadap Kaltim yang memiliki banyak pulau, pada hari ini wapres akan mengunjungi Nunukan untuk melihat kehidupan pesisir di lokasi tersebut. “Dari situ apa yang harus diperbaiki, dan apa yang harus dilakukan pemerintah, maupun pemerintah daerah,” sebutnya.
Di bagian lain, dalam peringatan Hari Nusantara, Boediono yang datang bersama Ny Herawati Boediono, dan Fadel Muhammad juga memberikan penghargaan kepada sejumlah nelayan, pegiat perikanan dan kelautan, serta petugas perhubungan laut. Dari Kaltim diwakili HM Nasir Junaid, nelayan teladan dari Kabupaten Berau, yang menerima penghargaan Adibakti Mina Bahari.
Penghargaan lainnya adalah penghargaan penyerahan buku kapal dan kapal secara simbolis kepada empat daerah; penyerahan kartu nelayan secara simbolis kepada 3 nelayan; pengembangan klaster/minapolitan industry rumput laut terbaik produk chips; pengembang klaster/minapolitan industry laut terbaik dengan produk rumput laut kering; pemberian penghargaan oleh menteri perhubungan RI. Sedangkan juara umum penghargaan Adibakti Mina Bahari diberikan kepada Gubernur Jawa Barat Ahmad Haryawan
Sumber Kaltim Post
Selasa, 14 Desember 2010 , 08:53:00
“Kuncinya adalah dengan bersama-sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha, untuk memberi perhatian yang lebih besar, dan koordinasi lebih baik, untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat perbatasan,” terang Boediono saat membuka peringatan Hari Nusantara XI di Kompleks Helipad Pertamina Balikpapan, Senin (13/12).
Ia menyebut, hal tersebut adalah tugas bersama yang harus dilaksanakan. “Mari kita tingkatkan kerja keras kita, dan lebih baik lagi, “ sambung wapres yang saat itu mengenakan baju batik berwarna biru.
Saat menyampaikan sambutan yang diwarnai hujan gerimis itu, Boediono mengajak warga Indonesia untuk introspeksi mengenai laut. Sebab, sumber daya laut sampai saat ini belum diberdayakan secara optimal, bagi kemakmuran rakyat dan bangsa.
“Padahal kita merupakan keturunan bangsa pelaut, yang cinta laut, berani, dan memanfaatkan laut untuk kehidupannya. Sudah banyak catatan sejarah yang menunjukkan nenek moyang kita yang menjelajahi laut sampai ke benua Afrika. Saya sangat mendukung tema perayaan tahun ini, Hari Nusantara Membangkitkan Budaya Bahari,” urainya.
Lewat semangat Hari Nusantara (Hanus), kepada seluruh peserta peringatan yang merupakan kepala daerah dari sejumlah penjuru Indonesia dan pejabat yang mengepalai bidang kelautan dan perikanan, Boediono meminta untuk mendorong masyarakat mencintai laut lewat program nyata oleh pemerintah dan masyarakat.
“Kuncinya lewat perbaikan transportasi antarpulau yang andal dulu. Dengan demikian konektivitas akan baik. Maka, kegiatan ekonomi kita terintegrasi, dan Indonesia akan lebih kuat menghadapi krisis,” sebutnya.
Dengan momentum Hari Nusantara pula, ajak Boediono, “Mari kita pelihara dan melanjutkan, menggerakkan budaya bahari, dan mengoptimalkan budaya bangsa kita sehingga anak cucu kita memanfaatkan secara besar.”
Selain itu, pemerintah daerah sebaiknya semakin peduli dengan kawasan pesisir terutama pulau-pulau kecil yang merupakan beranda terdepan RI. Seperti diketahui wapres, budidaya ikan di kawasan pesisir masih memprihatikan, dan oleh sebab itu harus diperhatikan dan memikirkan bersama program-program nyata yang bisa dilaksanakan.
”Kita punya ribuan komunitas nelayan, yang sebagian besar masih terpencil, dan banyak keterbatasan. Nantinya semua komunitas itu harus mempunayai akses jaringan antarpulau itu,” sebutnya.
Terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II Fadel Muhammad mengatakan, deklarasi Juanda pada 13 Desember 1957 yang menjadi acuan untuk memperingati Hari Nusantara itu sangat bermakna dalam bahwa wilayah laut dan darat Indonesia tidak bisa dipisahkan.
Dalam kesempatan itu, Fadel yang juga merupakan ketua umum panitia nasional Hari Nusantara XI 2010 menambahkan, peringatan Hari Nusantara tidak hanya dilaksanakan di Balikpapan tetapi juga berbagai daerah di Indonesia.
Sebagai bentuk upaya perhatian pemerintah terhadap Kaltim yang memiliki banyak pulau, pada hari ini wapres akan mengunjungi Nunukan untuk melihat kehidupan pesisir di lokasi tersebut. “Dari situ apa yang harus diperbaiki, dan apa yang harus dilakukan pemerintah, maupun pemerintah daerah,” sebutnya.
Di bagian lain, dalam peringatan Hari Nusantara, Boediono yang datang bersama Ny Herawati Boediono, dan Fadel Muhammad juga memberikan penghargaan kepada sejumlah nelayan, pegiat perikanan dan kelautan, serta petugas perhubungan laut. Dari Kaltim diwakili HM Nasir Junaid, nelayan teladan dari Kabupaten Berau, yang menerima penghargaan Adibakti Mina Bahari.
Penghargaan lainnya adalah penghargaan penyerahan buku kapal dan kapal secara simbolis kepada empat daerah; penyerahan kartu nelayan secara simbolis kepada 3 nelayan; pengembangan klaster/minapolitan industry rumput laut terbaik produk chips; pengembang klaster/minapolitan industry laut terbaik dengan produk rumput laut kering; pemberian penghargaan oleh menteri perhubungan RI. Sedangkan juara umum penghargaan Adibakti Mina Bahari diberikan kepada Gubernur Jawa Barat Ahmad Haryawan
Sumber Kaltim Post
Selasa, 14 Desember 2010 , 08:53:00
Mahfud Serahkan KPK Periksa Refly Harun
Ketua Mahkamah Konsitusi (MK) Mahfud MD menyerahkan kepada KPK untuk memeriksa Refly Harun terkait dugaan adanya penyuapan terhadap salah satu hakim MK.
"Kami melaporkan adanya percobaan penyuapan terhadap hakim MK yang nama-namanya sudah disebutkan oleh tim," kata Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat konpers di Kantor Mahkamah Konstitusi, Jumat (10/12/2010).
Menurut Mahfud, MK akan menyerahkan seluruhnya kepada KPK untuk memanggil siapa siapa saja yang tersangkut dalam perkara penyuapan hakim MK, termasuk Refly Harun jika terlibat dugaan tersebut.
"Silakan KPK memanggil mereka. Kalau nanti, menyangkut orang lain, apa Refly atau siapa itu bukan karena laporan MK. MK hanya melaksanakan kewajiban bahwa kalau ada orang melakukan tindak pidana kita tahu wajib melapor, kalau tidak melapor kita yang dihukum, itu menurut pasal 18 KUHP," beber Mahfud.
Seperti diberitakan, Hakim MK Akil Mochtar mengatakan dirinya akan melaporkan Refly Harun ke KPK karena diduga terlibat upaya percobaan penyuapan terhadap MK. Bahkan mantan politisi Golkar ini menantang untuk siap dipenjara jika terbukti menerima suap.
"Apakah mereka yang masuk penjara, atau saya. Kalau memang dibuktikan saya menerima suap, saya bersedia (dipenjara). Sebaliknya mereka harus siap,"
"Kami melaporkan adanya percobaan penyuapan terhadap hakim MK yang nama-namanya sudah disebutkan oleh tim," kata Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat konpers di Kantor Mahkamah Konstitusi, Jumat (10/12/2010).
Menurut Mahfud, MK akan menyerahkan seluruhnya kepada KPK untuk memanggil siapa siapa saja yang tersangkut dalam perkara penyuapan hakim MK, termasuk Refly Harun jika terlibat dugaan tersebut.
"Silakan KPK memanggil mereka. Kalau nanti, menyangkut orang lain, apa Refly atau siapa itu bukan karena laporan MK. MK hanya melaksanakan kewajiban bahwa kalau ada orang melakukan tindak pidana kita tahu wajib melapor, kalau tidak melapor kita yang dihukum, itu menurut pasal 18 KUHP," beber Mahfud.
Seperti diberitakan, Hakim MK Akil Mochtar mengatakan dirinya akan melaporkan Refly Harun ke KPK karena diduga terlibat upaya percobaan penyuapan terhadap MK. Bahkan mantan politisi Golkar ini menantang untuk siap dipenjara jika terbukti menerima suap.
"Apakah mereka yang masuk penjara, atau saya. Kalau memang dibuktikan saya menerima suap, saya bersedia (dipenjara). Sebaliknya mereka harus siap,"
Kamis, 09 Desember 2010
9 Desember adalah Hari Anti Korupsi se Dunia
![]() |
Gerakan anti Korupsi |
Mari kita rayakan dengan membangun tekad dari DIRI SENDIRI untuk tidak KORUPSI. Pengertian korupsi di sini nggak perlu yang jutaan apalagi miliaran rupiah. Yang sederhana saja : Kalau memang bukan hak kita ya jangan diembat. Bolehlah kita mengritisi Aparat penegak Hukum, Polisi, Jaksa, Hakim ataupun KPK. Tapi ayo kita instropeksi kita dulu. Kalau semua bersikap spt ini Insa Allah, Korupsi bakal terkikis.Selamat Hari Anti Korupsi.
Selasa, 07 Desember 2010
Milioner Facebook & Google Perang
Untuk menuju tempat kerja, pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page punya keunikan tersendiri. Begitu pula CEO Facebook Mark Zuckerbeg. Di balik itu semua, Google dan Facebook sedang melancarkan perang.
Di usia 37 tahun, Sergey Brin dan Larry Page adalah ‘orang lama’. Dengan kekayaan masing-masing diperkirakan senilai US$15 miliar (Rp 136,5 triliun), mereka membangun kerajaan bersama 23 ribu pekerja demi memproses sekitar satu miliar materi pencarian setiap hari.
Keduanya gemar menghabiskan waktu dengan sekadar meneguk anggur. Atau pesta di udara dengan Boeing 767 yang dilengkapi tempat tidur besar dan ruang mandi lengkap.
Kenikmatan juga dirasakan pria muda Mark Zuckerberg. Meski ‘hanya’ memiliki kekayaan US$7 miliar (Rp 63,7 triliun), pria berusia 26 tahun ini punya komunitas dengan jumlah pengguna lebih dari 500 juta yakni Facebook. Namun keangkuhan tampak dari kartu nama resmi Facebook miliknya yang bertulis, “Saya seorang CEO, bitch!”
Ketiga pengusaha ini melambangkan sikap santai dan siswa yang antiotoriter saat pertama kali meluncurkan perusahaan mereka. Brin sendiri masih berstatus cuti dalam studi PhD di Stanford University.
Namun, pendiri Google itu sudah menyadari posisi Mark Zuckerberg sejak awal. Mereka bahkan menunjukkan rasa hormat kepada pendiri Facebook. Sayangnya, ini tidak cukup mengurangi kadar kompetisi mereka.
“Hanya ada sedikit interaksi antarmereka (Facebook dan Google) sebagai perusahaan yang saling berkompetisi. Ini semua berawal dari ego. Mereka semua sangat menginginkan kemenangan,” ujar salah satu sumber Daily Mail.
Saat menyadari bahwa perusahaan mereka telah berkembang multinasional, pendiri Google dan Facebook menemukan bahwa ranah internet pun tidak cukup bagi mereka berdua.
Page dan Brin marah kepada Facebook karena menyulitkan pengguna untuk bertukar informasi pribadi secara digital, di luar Facebook. Mereka ingin Google juga masuk ke wilayah jejaring sosial.
Di sisi lain, Zuckerberg yang awalnya cenderung ke fitur sosial, akan meluncurkan kompetitor layanan email Google. Google masih menjadi perusahaan raksasa namun Silicon Valley mengalami goncangan saat muncul rumor banyak teknisi software mereka berkhianat dengan bergabung bersama Facebook. Ini memang menimbulkan suasana tidak nyaman.
“Page dan Brin percaya bahwa mesin dapat bekerja lebih baik di dunia informasi dibandingkan manusia,” kata Sarah Lacy, penerbit buku You’re Lucky, Twice You’re Good, buku soal perusahaan Google. Di sisi lain, menurut Lacy, perusahaan Zuckerberg memandang bahwa koneksi sosial membuat kehidupan sehari-hari lebih efisien.
Terlepas dari kekayaannya, Zuckerberg tetaplah mahasiswa ilmu komputer dengan gaya hidup khasnya. Ia gemar mendengarkan musik dari Lady Gaga dan U2, mencintai film Gladiator dan The Matrix atau sekadar membaca buku fiksi ilmiah.
Zuckerberg menyewa sebuah rumah sederhana di Palo Alto, setengah mil dari kantor Facebook dan mengendarai Honda Acura. Ia bangun pada pukul 10 pagi, hanya menggunakan kaus, celana jins dan sepatu kets untuk berjalan ke tempat kerja. Matanya sendiri tetap terpaku di iPhone.
Di Jumat sore, Zuckerberg bersama beberapa teman baiknya yang juga jutawan Facebook ke bar, tempat banyak siswa berkumpul. Mereka berisik, menaburkan kacang di lantai dan memesan banyak bir. Atau, malam lainnya, Zuckerberg bersama pacarnya Priscilla Chan akan mengantri makanan prasmananan US$15 (Rp130 ribu) di restoran Meksiko populer.
Pendiri Google, Brin gemar melakukan hal yang berbeda. Ia dan istrinya, Anne menikah pada 2007 di pulau pribadi David Copperfield, Musha Cay, di Bahama. Semua tamu diwajibkan berenang ke sisi pantai yang terisolasi untuk ikut upacara itu.
Brin juga sering menghadiri konferensi dengan kaus dan celana jins yang banyak lubang, meskipun setelah menikah, pendiri Google ini mulai memanfaatkan kekayaan mereka. “Mereka memiliki gaya hidup yang sederhana namun tidak sesederhana dulu,” kata Richard Brandt, penulis buku They Will Splurge.
Namun, Google tidak pelit dalam beramal. Dengan lembaga Google.org, mereka telah membagi-bagikan lebih dari US$110 juta (Rp1 triliun) untuk dukungan terhadap proyek-proyek teknologi tinggi dan komputer bagi masyarakat miskin. Di sisi lain, Zuckerberg memberikan donasi US$100 juta (Rp 910 juta) untuk membantu sekolah umum di New Jersey.
Saat ini, Page dan Brin takut kepada Facebook. Ini terlihat dari apa yang dilakukan perusahaan Silicon Valley itu. Kedua perusahaan berperang terkait filosofi yang mereka anut. Google ingin semua informasi di seluruh dunia dapat diakses secara gratis dan disponsori pengiklan.
Sebaliknya, Facebook ingin mengganti layanan Google dengan rekomendasi, pencarian, serta berita berdasarkan ketertarikan pengguna dan bersumber dari interaksi mereka dengan orang lain
Senin, 06 Desember 2010
AS Kesulitan Matikan Situs WikiLeaks, Julian Assange dan situs fenomenal Wikileaks terus mempermalukan dunia dengan kabel diplomatik AS
![]() |
AS Kesulitan Matikan Situs WikiLeaks |
Wikileask telah memiliki lebih dari 335 situs mirror untuk melanjutkan penerbitan kabel diplomatik AS. Wikileaks mengatakan terkait kasus pembajakan situs asli mereka, situs mirror itu berfungsi untuk melakukan perang melawan Amerika Serikat.
Amerika Serikat sudah menggunakan semua langkah yang tesedia untuk mengakhiri kerajaan Wikileaks. Namun, hacker generasi baru Julian Assang mempersiapkan solusi rintangan itu dalam hitungan detik. Inilah sekilas pertarungan antara kedua kubu itu.
Wikileaks merilis kabel diplomatik 29 November yang membongkar trik kotor dari pemerintah AS. Informasi itu meresahkan masyarakat di seluruh dunia. Selanjutnya, situs Wikileaks dihadapkan upaya besar pembajakan. Hacker AS menggunakan metode yang dikenal dengan nama distribusi penolakan layanan (distributed denial of service / DdoS) untuk membajak Wikileaks.
Setelah berhasil bertahan dengan pembajakan itu, Wikileaks kembali menghadapi pemutusan oleh EveryDNS.net yang menyediakan domain Wikileaks sebagai cara AS mencegah pembocoran lebih lanjut kabel diplomatik.
Tindakan itu membuat Wikileaks mengubah domain mereka ke tempat yang lebih aman di Swiss. AS lagi-lagi menyerang Wikileaks dari sisi pendanaan. Mereka meminta PayPal, situs pembayaran online yang mengatur donasi Wikileaks, untuk memblokir seluruh dana ke Wikileaks atau lembaga pendanaan Jerman yang mengatur keuangan Wikileaks.
Selanjutnya, operator domain Wikileaks di Swiss mengatakan mereka juga sempat menghadapi masalah. Wikileaks kemudian berencana pindah lagi ke Swedia.
Wikileaks juga sukses membuat malu AS dengan mengundang situs mirror. Mirror memungkinkan penggandaan dari situs asli dan memungkinkan pengguna mengakses atau mengunduh Wikileaks dari situs mirror itu
Minggu, 05 Desember 2010
Jadilah diri anda sendiri
Malapetaka Apa yang Terjadi jika Matahari Mati?
Setelah Matahari sekarat maka akan mati dengan memakan bumi bersamanya. Kehidupan sendiri sudah hancur sebelum matahari menelan Bumi.Kabar baiknya manusia punya waktu yang sangat sangat panjang sebelum hal itu bisa terjadi. Sebuah panel ilmuwan pada pertemuan tahunan Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu, menggambarkan situasi itu pada tahun 2000 dan meyakini masih berlaku.
Para astronom umumnya setuju bahwa matahari akan membakar habis pasokan bahan bakar hidrogen dalam 5 sampai 7 miliar tahun mendatang. Hal itu akan membuat gravitasi memaksa matahari runtuh ke intinya, dan hidrogen yang tersisa menyebabkan matahari mengembang menjadi raksasa merah.
Pada titik ini, matahari akan menelan bumi. "Bumi akan berakhir di bawah sinar matahari, menguap dan bercampur dengan material matahari," kata pakar Iowa State University Lee Anne Willson.
"Bagian dari matahari kemudian akan terlempar ke ruang angkasa, sehingga bisa dikatakan Bumi akan dikremasi dan abunya tersebar ke ruang antarbintang."
Pada saat itu, matahari akan cukup panas untuk membakar semua helium yang disimpan dan ukuran matahari akan berfluktuasi. Matahari tidak cukup besar untuk meledak jadi supernova mengagumkan, sehingga hanya akan runtuh menjadi white dwarf yang relatif dingin.
Kehidupan di Bumi kemungkinan besar sudah lama mati sebelum itu terjadi. Saat sampai tahap raksasa merah, maka matahari akan semakin terang sekitar 10 persen setiap satu miliar tahun. Pada tingkat itu, para ilmuwan memperkirakan bahwa semua air di planet ini akan menguap
Para astronom umumnya setuju bahwa matahari akan membakar habis pasokan bahan bakar hidrogen dalam 5 sampai 7 miliar tahun mendatang. Hal itu akan membuat gravitasi memaksa matahari runtuh ke intinya, dan hidrogen yang tersisa menyebabkan matahari mengembang menjadi raksasa merah.
Pada titik ini, matahari akan menelan bumi. "Bumi akan berakhir di bawah sinar matahari, menguap dan bercampur dengan material matahari," kata pakar Iowa State University Lee Anne Willson.
"Bagian dari matahari kemudian akan terlempar ke ruang angkasa, sehingga bisa dikatakan Bumi akan dikremasi dan abunya tersebar ke ruang antarbintang."
Pada saat itu, matahari akan cukup panas untuk membakar semua helium yang disimpan dan ukuran matahari akan berfluktuasi. Matahari tidak cukup besar untuk meledak jadi supernova mengagumkan, sehingga hanya akan runtuh menjadi white dwarf yang relatif dingin.
Kehidupan di Bumi kemungkinan besar sudah lama mati sebelum itu terjadi. Saat sampai tahap raksasa merah, maka matahari akan semakin terang sekitar 10 persen setiap satu miliar tahun. Pada tingkat itu, para ilmuwan memperkirakan bahwa semua air di planet ini akan menguap
Minggu, 21 November 2010
DUNIA IBARAT AIR LAUT
Dalam keidupan kita sehari-hari ada persamaan keinginan untuk mencari harta yang sebanyak waktu yang tersedia,,,bila mentari menyuluh bumi,,,kitapun bangkit dari mimpi,,,menyambung lagi pencarian yang terhenti semalam,,,kepuasan terpancar jelas bila yang mimpi terbukti dengan kekayaan yang dimiliki masih tidak lagi mencukupi,,,kadang kita mmelihat yang dhahir,sehingga kita lupa untuk menilai apa yang tersirat,,,jiwa kita kosong sebenarnya dan berapa kali sehari,seminggu,sebulan,kita mampu untuk mengisi kekosongan dalam diri ini,,,
Santapan fisik kita selalu mewah kekenyangan ,sedangkan santapan rohani kita senantiasa kekurangan.memag begitu sikap manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada,seolah-olah harta didunia bisa dibawa kesana,kita terlupa bahwa harta yag ada takakan biisa dibawa,.
Amalan seharian yang mesti ada dihati,,sudah terlewat bila tubuh terbujur kaku tidak berfungsi,,disaat itulah terlihat semua dimana tempat kita,,, sebaiknya kita selalu ingat dunia ini ibarat air laut,,,semakin kita meminumnya,semakin kita kehausan,,kita haru sadar kita hanya musafir didunia ini,kita hanya sementara hidup didunia dan suatu saat kita akan dijemput untuk pulang,Mari kita sama-sama mempersiapkan diri,....!!!!!
Santapan fisik kita selalu mewah kekenyangan ,sedangkan santapan rohani kita senantiasa kekurangan.memag begitu sikap manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada,seolah-olah harta didunia bisa dibawa kesana,kita terlupa bahwa harta yag ada takakan biisa dibawa,.
Amalan seharian yang mesti ada dihati,,sudah terlewat bila tubuh terbujur kaku tidak berfungsi,,disaat itulah terlihat semua dimana tempat kita,,, sebaiknya kita selalu ingat dunia ini ibarat air laut,,,semakin kita meminumnya,semakin kita kehausan,,kita haru sadar kita hanya musafir didunia ini,kita hanya sementara hidup didunia dan suatu saat kita akan dijemput untuk pulang,Mari kita sama-sama mempersiapkan diri,....!!!!!
Senin, 18 Oktober 2010
Minimal 100 Meter dari Sekolah
BONTANG – Maraknya usaha sarang burung walet di Kota Bontang yang dibangun di rumah-rumah bertingkat, segera ditertibkan. Pemkot Bontang telah menerbitkan peraturan daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2010 tentang pengelolaan dan pengusahaan sarang burung walet di wilayah Kota Bontang. Perda ini pula telah disetujui oleh DPRD Kota Bontang dan segera diberlakukan.
Merebaknya usaha sarang burung walet di Kota Bontang dipandang wajar oleh banyak kalangan, sebab keuntungan yang bisa diraih melalui usaha ini sungguh menggiurkan. Bayangkan saja, untuk harga sarang burung walet per kilogramnya bisa mencapai Rp 17 juta dan dalam sekali panen bisa mencapai puluhan kilogram.
Usaha ini tentunya akan bisa memberikan kontribusi dalam peningkatan perekonomian daerah dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Namun di sisi lain, usaha ini juga bisa menimbulkan dampak lingkungan, termasuk penataan kota serta kesehatan bagi masyarakat sekitar lokasi usaha jika tidak dikelola dengan baik.
Guna untuk menertibkan usaha ini, Pemkot Bontang telah menetapkan payung hukum yang akan mengatur tentang sistem dan mekanisme pengelolaan usaha sarang burung walet yakni Perda Nomor 4 Tahun 2010. Dengan terbitkannya perda ini diharapkan mampu mengendalikan dan meminimalisasi dampak yang ditimbulkan dari kegiatan usaha pengelolaan sarang burung walet tersebut.
Selain itu juga untuk mengatur penyebaran dan perkembangan usaha sarang burung walet di Bontang. Nah, bagi masyarakat yang tertarik dengan bisnis ini tentu perlu mempelajari serta memahami perda yang telah ditetapkan sejak awal Agustus 2010 ini. Karena berdasarkan peraturan dalam perda ini, bangunan sarang burung walet tidak boleh dibangun di sembarang tempat.
Seperti yang tertuang pada Bab II tentang lokasi dan bangunan pada pasal 2 ayat 1 berbunyi, pengelolaan dan pengusahaan sarang burung walet dapat dilaksanakan pada lokasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah kecuali pada kawasan tertentu.
Dan pada ayat 2 dinyatakan, kawasan tertentu sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) adalah sekitar perkantoran pemerintah, instalasi pelayanan umum, sekolah, perusahaan air minum dan instalasi militer dengan radius paling sedikit 100 meter dari batas terluar.
Dengan diterbitkannya perda ini maka diharapkan masyarakat yang akan membangun usaha sarang burung walet bisa tunduk dan mengikuti peraturan sesuai Perda yang telah ditetapkan tersebut. Tak hanya itu, bagi warga yang telah memiliki usaha sarang burung walet sebelum perda ini diterbitkan, akan diberikan waktu untuk menyesuaikan dengan peraturan yang telah ditetapkan.
Seperti yang tertuang pada Bab IX tentang ketentuan peralihan Pasal 17 yang berbunyi, bagunan sarang burung walet yang telah ada sebelum ditetapkannya Perda ini, diberikan batasan waktu paling lama 5 tahun untuk menyesuaikan dengan perda ini
Nelayan Bontang Enggan ke TPI Tanjung Limau
BONTANG - Hasil laut Bontang ternyata tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat Bontang. Pengusaha perikanan di kota ini lebih memilih menjual hasil tangkapan ikan ke luar kota Bontang. Sebab sarana pendukung tempat pelelangan ikan (TPI) dan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Tanjung Limau kurang maksimal. Kondisi itu disimpulkan setelah Komisi III DPRD melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi TPI, Selasa (9/2) siang.
“Dari keterangan pengusaha, mereka terkadang harus menjual hasil tangkapannya di wilayah Kutim. Soalnya, saat kapal ikan sandar untuk membongkar ikan di TPI, kapal yang digunakan harus langsung mengisi solar di SPBN. Tapi informasinya, SPBN justru sering kosong,” ujar anggota Komisi III Henry Pailan.
Di TPI Tanjung Limau ini pun belum didukung pasokan listrik dan kapasitas dermaga juga terbatas.
“Nelayan meminta penerangan di lokasi ini 24 jam nonstop. Sementara saat ini, TPI masih menggunakan genset. Sehingga TPI bisa difungsikan siang hari saja. Padahal, nelayan harus membongkar hasil tangkapannya malam hari.” ujar anggota Komisi III lainnya Fauzan Akhsan dan Muhammad Dahnial. Kapasitas dermaga yang hanya bisa menampung satu kapal saja, juga menjadi faktor yang menyebabkan nelayan enggan ke TPI.
“Harusnya semua aktivitas bongkar muat ikan sebelum di lempar ke pasaran, lewat TPI. Tapi, dermaga yang tersedia hanya bisa disandari satu kapal. Sehingga, kalau sudah ada kapal nelayan sandar di dermaga, mereka harus antre untuk membongkar ikan dari kapal. Ini tidak efisien dan berdampak pada hasil tangkapan nelayan,” tambah Henry.
Melihat kondisi tersebut, Komisi III langsung meminta Dinas Perikanan, Kelautan dan Pertanian, segera melakukan pembenahan.
“Dermaganya harus ditambah, minimal 3 kapal bisa sandar di TPI. Dengan begitu, kapal nelayan tidak perlu antre dan hasil tangkapan juga bisa langsung dibongkar. Dinas Perikanan harus secepatnya mengantisipasi hal ini. Demikian juga dengan persoalan listrik. Kami akan meminta instansi terkait untuk segera menambah kapasitas dermaga dan menyiapkan penerangan 24 jam di TPI,” ucap Wakil Ketua DPRD yang juga Koordinator Komisi III Sutrisnowati.
Untuk diketahui, saat sidak kemarin, Komisi III juga langsung mendatangi SPBN yang lokasinya tidak jauh dari TPI. “Kami ingin mengetahui penyebab stok solar yang sering kosong di SPBN. Karena berdasarkan informasi yang kami terima di lapangan, nelayan terkadang kesulitan mendapatkan solar, karena stok di SPBN kosong. Makanya, hasil tangkapan ikan yang seharusnya dijual di Bontang, terpaksa dijual di daerah lain,” kata Fauzan Akhsan.
Sayang, Komisi III tidak mendapatkan data yang akurat soal pembelian solar di SPBN. Sebab, pejabat yang berwenang memberikan data, tidak berada di tempat.
“Kami berharap bisa mendapatkan rekapan data penjualan. Dengan begitu bisa diketahui, berapa keperluan nelayan di Bontang. Jangan sampai solar bersubsidi yang ditujukan buat nelayan, justru dinikmati oleh pelaku industri,” tandas Fauzan
Kamis, 07 Oktober 2010
KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL
KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL
Jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin sampai saat ini belum juga terjembatani. Masih sering kudengar dan kubaca berita-berita memilukan tentang kemiskinan. Dalam kemiskinan, sayangnya anak-anaklah yang paling sering menjadi korban penderitanya. Rasanya sudah banyak contoh yang tersebar di sekeliling kita, sehingga tak perlu lagi aku mengambil salah satunya.
Kemiskinan versus kekayaan, dan kekayaan berkorelasi dengan kekuasaan. Mungkin itulah "dalil" yang dipegang pada saat ini. Begitulah jika uang sudah punya kuasa, maka seringkali hati nurani tak berani bicara. Bukankah sudah banyak bukti yang menguatkan "dalil" tersebut di atas ?
Ada satu puisi yang setiap kali aku membacanya, selalu saja aku tak mampu menahan air mata. Sebuah puisi yang dengan gamblang memotret pedihnya kemiskinan yang ada di negeri kita tercinta ini. Semoga saja puisi ini tidak menggambarkan hati kita yang makin asing dengan nurani....
Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam yang membayangi dan terus mengikuti hinggap pada kata-kata yang tak pernah sanggup kususun juga untukmu, adik kecil
Belum lama kudengar berita pilu yang membuat tangis seakan tak berarti saat para bayi yang tinggal belulang mati dikerumuni lalat karena busung lapar aku bertanya pada diri sendiri benarkah ini terjadi di negeri kami?
Lalu kulihat di televisi ada anak-anak kecil memilih bunuh diri hanya karena tak bisa bayar uang sekolah karena tak mampu membeli mie instan juga tak ada biaya rekreasi
Beliung pun menyerbu dari berbagai penjuru menancapi hati mengiris sendi-sendi diri sampai aku hampir tak sanggup berdiri sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri benarkah ini terjadi di negeri kami?
Lalu kudengar episodemu adik kecil Pada suatu hari yang terik nadimu semakin lemah tapi tak ada uang untuk ke dokter atau membeli obat sebab ayahmu hanya pemulung kaupun tak tertolong
Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo tak makan, tak minum sebab uang tinggal enam ribu saja mereka tuju stasiun sambil mendorong gerobak kumuh kau tergolek di dalamnya berselimut sarung rombengan pias terpejam kaku
Airmata bercucuran peluh terus bersimbahan Ayah dan abangmu akan mencari kuburan tapi tak akan ada kafan untukmu tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah hanya matahari mengikuti memanggang luka yang semakin perih tanpa seorang pun peduli aku pun bertanya sambil berteriak pada diri benarkah ini terjadi di negeri kami?
Tolong bangunkan aku, adinda biar kulihat senyummu katakan ini hanya mimpi buruk ini tak pernah terjadi di sini sebab ini negeri kaya, negeri karya. Ini negeri melimpah, gemerlap. Ini negeri cinta
Ah, tapi seperti duka aku pun sedang terjaga sambil menyesali mengapa kita tak berjumpa, Adinda dan kau taruh sakit dan dukamu pada pundak ini
Di angkasa layang-layang hitam semakin membayangi kulihat para koruptor menarik ulur benangnya sambil bercerita tentang rencana naik haji mereka untuk ketujuh kalinya
Aku putuskan untuk tak lagi bertanya pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.
aku memang sedang berada di negeriku yang semakin pucat dan menggigil
Nelayan Tradisional Kian Tersisih
AMBON, KOMPAS - Nelayan tradisional di Ambon, Maluku, yang menggunakan alat tangkap ikan huhate, semacam alat pancing, kian tersisih. Mereka kalah bersaing dengan nelayan yang menggunakan jaring.
Peter (41), salah seorang nelayan tradisional di Galala, Ambon, Minggu (21/2), mengatakan, nelayan dengan alat tangkap jaring kebanyakan nelayan asing yang berasal dari Filipina. Mereka kerap beroperasi di perairan tempat nelayan tradisional Ambon biasa mencari ikan, misalnya di perairan Seram, Buru, Bitung, dan Banda.
Dengan menggunakan jaring, mereka dapat menangkap ikan tiga sampai empat kali lipat lebih banyak daripada yang bisa ditangkap nelayan tradisional. Dampaknya, nelayan tradisional hanya mendapat sisanya yang jumlahnya tergolong sedikit.
”Sekali melaut (dua hari sampai lima hari), nelayan Ambon hanya bisa menangkap ikan cakalang, sejenis ikan tongkol, 500 kilogram sampai 2 ton. Jumlah itu jauh di bawah hasil tangkapan sebelum tahun 1980, yang minimal 2 ton sekali melaut,” papar Peter.
Yonas (43), nelayan yang memiliki enam perahu di Galala, mengungkapkan, tidak hanya nelayan asing yang membuat nelayan lokal terancam. Sejumlah perusahaan nasional yang mengoperasikan perahu dengan alat tangkap jaring untuk menangkap ikan di perairan Maluku juga mengundang resah.
Perusahaan seperti itu, lanjut Yonas, tidak sedikit yang menyewa orang Filipina yang terbiasa menangkap ikan dengan jaring. ”Di sisi lain, nelayan tradisional Ambon enggan menggunakan alat tangkap jaring karena tidak terbiasa,” katanya.
Tak dioperasikan
Kondisi yang demikian, kata Peter, Yonas, dan beberapa nelayan tradisional Galala lainnya, menyebabkan mereka memilih tidak mengoperasikan perahunya. Hal itu disebabkan biaya operasi yang dikeluarkan nelayan tidak sebanding dengan hasil tangkapan.
Sekretaris Jenderal Lembaga Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik mendesak pemerintah menerbitkan regulasi guna melindungi perairan yang menjadi wilayah tangkap nelayan tradisional. Negara lain yang bertumpu pada perikanan, seperti Jepang, katanya, sangat melindungi nelayan dengan regulasi.
Regulasi seperti itu dinilai perlu, terutama jika pemerintah ingin tetap menjadikan Maluku sebagai lumbung perikanan. ”Apalagi jika ingin Indonesia menjadi produsen ikan terbesar di dunia tahun 2012. Saat ini, Indonesia menduduki posisi keempat. Posisi pertama ditempati oleh China, lalu Peru, dan terakhir Amerika Serikat,” kata Riza.
Target sebagai produsen ikan terbesar tidak akan tercapai jika pencurian ikan dan penangkapan ikan secara besar-besaran tanpa memerhatikan keberlanjutan produksi ikan, seperti sekarang ini, terus terjadi. ”Yang terjadi pada akhirnya nelayan tradisional kian terpuruk,” ujar Riza.
Tak sependapat
Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual, Maluku, Joko Supraptomo tidak sependapat jika dikatakan tangkap jaring tidak memperhatikan keberlanjutan produksi ikan. ”Hal itu tinggal tergantung dari ukuran mata jaringnya. Ukuran ini pun ada aturannya sehingga jaring tidak menangkap ikan kecil,” ujarnya.
Joko berpendapat, nelayan tradisional bukan tidak bisa beralih ke alat tangkap jaring. ”Mereka lebih memilih huhate karena sudah turun-temurun menggunakannya sehingga sulit beralih ke jaring,” katanya. (APA)
sumber: KOMPAS
Peter (41), salah seorang nelayan tradisional di Galala, Ambon, Minggu (21/2), mengatakan, nelayan dengan alat tangkap jaring kebanyakan nelayan asing yang berasal dari Filipina. Mereka kerap beroperasi di perairan tempat nelayan tradisional Ambon biasa mencari ikan, misalnya di perairan Seram, Buru, Bitung, dan Banda.
Dengan menggunakan jaring, mereka dapat menangkap ikan tiga sampai empat kali lipat lebih banyak daripada yang bisa ditangkap nelayan tradisional. Dampaknya, nelayan tradisional hanya mendapat sisanya yang jumlahnya tergolong sedikit.
”Sekali melaut (dua hari sampai lima hari), nelayan Ambon hanya bisa menangkap ikan cakalang, sejenis ikan tongkol, 500 kilogram sampai 2 ton. Jumlah itu jauh di bawah hasil tangkapan sebelum tahun 1980, yang minimal 2 ton sekali melaut,” papar Peter.
Yonas (43), nelayan yang memiliki enam perahu di Galala, mengungkapkan, tidak hanya nelayan asing yang membuat nelayan lokal terancam. Sejumlah perusahaan nasional yang mengoperasikan perahu dengan alat tangkap jaring untuk menangkap ikan di perairan Maluku juga mengundang resah.
Perusahaan seperti itu, lanjut Yonas, tidak sedikit yang menyewa orang Filipina yang terbiasa menangkap ikan dengan jaring. ”Di sisi lain, nelayan tradisional Ambon enggan menggunakan alat tangkap jaring karena tidak terbiasa,” katanya.
Tak dioperasikan
Kondisi yang demikian, kata Peter, Yonas, dan beberapa nelayan tradisional Galala lainnya, menyebabkan mereka memilih tidak mengoperasikan perahunya. Hal itu disebabkan biaya operasi yang dikeluarkan nelayan tidak sebanding dengan hasil tangkapan.
Sekretaris Jenderal Lembaga Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik mendesak pemerintah menerbitkan regulasi guna melindungi perairan yang menjadi wilayah tangkap nelayan tradisional. Negara lain yang bertumpu pada perikanan, seperti Jepang, katanya, sangat melindungi nelayan dengan regulasi.
Regulasi seperti itu dinilai perlu, terutama jika pemerintah ingin tetap menjadikan Maluku sebagai lumbung perikanan. ”Apalagi jika ingin Indonesia menjadi produsen ikan terbesar di dunia tahun 2012. Saat ini, Indonesia menduduki posisi keempat. Posisi pertama ditempati oleh China, lalu Peru, dan terakhir Amerika Serikat,” kata Riza.
Target sebagai produsen ikan terbesar tidak akan tercapai jika pencurian ikan dan penangkapan ikan secara besar-besaran tanpa memerhatikan keberlanjutan produksi ikan, seperti sekarang ini, terus terjadi. ”Yang terjadi pada akhirnya nelayan tradisional kian terpuruk,” ujar Riza.
Tak sependapat
Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual, Maluku, Joko Supraptomo tidak sependapat jika dikatakan tangkap jaring tidak memperhatikan keberlanjutan produksi ikan. ”Hal itu tinggal tergantung dari ukuran mata jaringnya. Ukuran ini pun ada aturannya sehingga jaring tidak menangkap ikan kecil,” ujarnya.
Joko berpendapat, nelayan tradisional bukan tidak bisa beralih ke alat tangkap jaring. ”Mereka lebih memilih huhate karena sudah turun-temurun menggunakannya sehingga sulit beralih ke jaring,” katanya. (APA)
sumber: KOMPAS
Langganan:
Postingan (Atom)